Tampilkan postingan dengan label Resensi matkul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi matkul. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2011

Teori Komunikasi

DEFINISI KOMUNIKASI
Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa Latin commnico yang berarti membagi. Yang dimaksud membagi adalah membagi gagasan, ide atau pikiran antara seseorang dan orang lain (Cangara, 2002:18). Communico berakar dari kata communis yang berarti sama, sama arti atau sama makna (Effendy, 1992:54).
Dalam komunikasi, hakikatnya harus terkandung kesamaan makna atau kesamaan pengertian. Tidak ada kesamaan pengertian di antara mereka yang melakukan komunikasi, komunikasi tidak akan berlangsung. Tegasnya tidak ada komunikasi.
Secara terminologis, para ahli komunikasi mendefenisikan komunikasi dari berbagai perspektif, yakni perspektif filsafat, sosiologis, dan psikologis. Dalam perspektif filsafat, komunikasi dimaknai untuk mempersoalkan apakah hakikat komunikator-komunikan, dan bagaimana mereka menggunakan komunikasi untuk berhubungan dengan realitas di alam semesta (Rakhmat, 1997:8).
Dari perspektif psikologis, Hovland, Janis, dan Kelly (dalam Rakhmat, 1997:3) mendefinisikan komunikasi sebagai ”the process by which an individual (the communicator) transmits stimulus (usually verbal) to modify the behavior of the other individuals (the audience).” Artinya, komunikasi adalah proses yang ditempuh seorang individu (komunikator) untuk menyampaikan stimulus (biasanya dengan lambang kata-kata) guna mengubah tingkah laku orang lain (komunikan).
Lantas, Dance (1967) mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi komunikasi behaviorisme sebagai upaya untuk menimbulkan respons melalui lambang-lambang verbal.
Dipandang dari perspektif sosiologis, Colin Cherry (1964) mendefinisikan komunikasi sebagai upaya untuk membuat satuan sosial yang terdiri dari individu-individu dengan menggunakan bahasa atau tanda.
Harnack dan Fest (1964) menganggap komunikasi sebagai proses interaksi di antara orang-orang untuk tujuan integrasi intrapersonal dan interpersonal.
Edwin Neumann mendefinisikan komunikasi sebagai proses untuk mengubah kelompok manusia menjadi berfungsi (Rakhmat, 1997:8).
Bernard Berelson dan Garry A. Stainer (1978) dalam karyanya, Human Behavior, mendefinisikan komunikasi sebagai berikut: “Komunikasi adalah penyampaian informasi, gagasan, emosi, keterampian dan sebagainya dengan menggunakan lambang-lambang, kata-kata, gambar, bilangan, mimik wajah, gerak-gerik atau bahasa tubuh, sikap, suara, tulisan, grafik, telegram, telepon, cetakan, dan apa saja yang merupakan penemuan mutakhir.”
Sementara itu, Charles Cooley (1990) membuat definisi komunikasi sebagai berikut: “Komunikasi adalah mekanisme yang menyebabkan adanya hubungan antarmanusia dan mengembangkan semua lambang pikiran besama-sama dengan sarana tertentu untuk menyiarkannya dalam ruang dan merekamnya dalam waktu. Dibandingkan dengan definisi-definisi lain, definisi versi Cooley merupakan yang lengkap dan menarik.
Definisi tersebut memiliki beberapa unsur. pertama, ide dari komunikasi sebagai dasar yang hakiki bagi hubungan manusia. Kedua, di dalam komunikasi terdapat mekanisme simbolisasi pesan (kata-kata, kial, gambar, lambang, dan sebagainya) dan alat-alat bagi pengoperan objek dari hubungan tersebut (informasi, gagasan, pengalaman, dan sebagainya). Ketiga, komunikasi sebagai proses yang menyebabkan hubungan tersebut menjadi satu kegiatan atau peristiwa. Barangkali, kekurangan definisi Cooley, ia tidak secara tegas menyebutkan tujuan komunikasi.
Dengan demikian, jelaslah bahwa komunikasi merupakan proses pengekspresian pikiran dan perasaan dari komunikator kepada komunikan dengan tujuan untuk mengubah sikap pada diri komunikan dengan menggunakan lambang-lambang. Komunikasi akan efektif apabila pikiran itu timbul dari benak yang jernih dan perasaan itu muncul dari lubuk hati yang bersih.
KOMPONEN KOMUNIKASI
Komunikasi kontemporer yang tergabung dalam The United Aristotelian Description of Communication membagi komponen komunikasi menjadi sepuluh komponen (De Vito, dalam Fred E. Jandt, 1998:26). Kesepuluh komponen tersebut yaitu:
1. Source (sumber) adalah sumber atau individu yang menyampaikan pesan. Boleh jadi, sumber itu adalah seseorang yang berbicara, menulis, menggambar, memberi isyarat atau suatu organisasi komunikasi seperti sebuah redaksi surat kabar, penerbit, stasiun televisi, atau studio film.
2. Encoding (proses penyandian) adalah proses penyandian atau pengalihan pesan dalam bentuk lambang-lambang.
3. Message (pesan) adalah pesan yang merupakan seperangkat lambang-lambang yang bermakna yang disampaikan sumber. Lambang-lambang itu bisa bersifat verbal (kata-kata lisan atau tulisan) maupun nonvebal (gerak, gambar, isyarat, kial, dan sikap).
4. Channel (saluran) adalah saluran atau media yang dipakai oleh sumber dan penerima pesan dalam berkomunikasi. Saluran yang digunakan bisa dua, tiga, atau empat saluran secara serentak. Misalnya, ketika berbicara atau mendengarkan, kita menggunakan saluran visual. Apabila kita mencium bau-bauan, menggunakan saluran olfaktori (saluran penciuman). Tatkala kita saling menyentuh, menggunakan saluran taktil. Saluran bisa juga berupa media cetak, sepertisurat kabar, majalah, dan buletin; atau media elektronik, seperti televisi, radio, film, dan Internet.
5. Noise (hambatan) adalah gangguan yang menerpa proses komunikasi yang dapat mengakibatkan diterima atau tidaknya pesan pada diri komunikan. Gangguan ini bisa berupa gangguan semantik (bahasa), psikologis (kejiwaan), sosiologis (status sosial),antropologis (perbedaan etnis), atau ekologis (lingkungan).
6. Receiver (penerima) adalah penerima pesan dari komunikator. Komunikan ini bisa sendiri atau sekelompook orang, bahkan suatu komunitas tertentu, seperti kelompok pendengar radio, penonton televisi, atau pembaca koran.
7. Decoding (proses penerimaan) adalah proses penangkapan, pemahaman, dan penerimaan pesan oleh komunikan dari komunikator. Proses decoding ini memerlukan kesiapan komunikan untuk menerima pesan dalam kondisi apapun.
8. Receiver respons (tanggapan penerima) adalah tanggapan atau seperangkat reaksi dari komunikan yang timbul setelah menerima pesan. Hal ini berkenaan dengan reaksi spontanitas yang dirasakan oleh komunikan.
9. Feedback (umpan balik) adalah umpan balik atau tanggapan dari komunikan kepada komunikator. Umpan balik ini bisa berasal dari dalam diri atau dari luar. Efek komunikasi adalah pengaruh yang terjadi pada diri komunikan. De Vito (1997:29) mengatakan, bahwa pada setiap komunikasi selalu ada konsekuensi. Pertama, memperoleh pengetahuan atau belajar bagaimana menganalisis, membuat sintesis atau mengevaluasi sesuatu. Ini adalah efek kognitif. Kedua, memperoleh sikap baru atau mengubah sikap, keyakinan, emosi, dan perasaan. Ini disebut dampak afektif. Ketiga, memperoleh cara-cara bertindak baru seperti cara melemparkan bola atau menulis feature, selain perilaku verbal dan nonverbal yang baik. Inilah efek psikomotorik.
10. Context (situasi komunikasi) adalah situasi atau lingkungan yang mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formal atau informal, serius atau santai, dan sebagainya.
Membahas komponen komunikasi tidaklah lengkap bila tidak menampilkan pendapat Harold D. Lasswell. Sebagaimana dikutip Effendy (1994:13), Laswell menyusun formulasi komuikasi dengan menjawab pertanyaan paradigmatis :
1. Who (siapa yang berbicara)
2. Says what (apa yang dibicarakan)
3. In which channel (menggunakan saluran apa)
4. to whom (kepada siapa)
5. With what effect (bagaimana pengaruhnya)
Jadi, berdasarkan formulasi tersebut, komunikasi adalah proses penyampain pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media hingga menimbulkan efek tertentu. Menurut pendapat penulis, tidak mungkin komunikasi dilakukan tanpa niatan atau tujuan (intention).
Di dalamnya pasti terkandung niatan/tujuan tertentu. Tujuan itu bisa dinyatakan secara eksplisit (terus terang), tetapi kebanyakan dinyatakan secara implisit (terselubung).
Tujuan atau niatan komunikator dalam berkomunikasi dapat diketahui melalui simbol-simbol yang digunakan dalam pesan-pesan yang disampaikan, Karena alasan ini, menurut pendapat penulis, teori komunikasi sebagaimana dicakup dalam paradigma Lasswell itu perlu dilengkapi hingga menjadi:
1. Who
2. Says what In which channel
3. To whom For what intention
4. With what effect.
Dari paradigma tersebut, dapat dilakukan kajian lebih lanjut sebagai berikut:
1. Communication/control analysis
2. Content analysis
3. Media analysis
4. Audience analysis
5. Motive analysis
6. Effect analysis
MODEL-MODEL KOMUNIKASI
Model Jarum Hipodermik
Secara hafiah, hipodermik (hypodermic) berarti di bawah kulit. Dalam hubungannya dengan komunikasi massa, istilah ”model jarum hipodermik” (hypodermic needle model) mengandung anggapan dasar bahwa media massa menimbulkan efek yang kuat, terarah, segera, dan langsung terhadap massa komunikan.
Efek yang segera dan langsung itu sejalan dengan pengertian perangsang-tanggapan (stimulus-respons). Media massa digambarkan sebagai jarum hipodermik raksasa yang membius massa komunikan yang pasif. Menurut Elihu Kattz, model tesebut terdiri dari media massa yang sangat ampuh, yang mampu memasukkan ide-ide pada benak khalayak hingga tak berdaya.
Model Komunikasi Satu Tahap
Model ini merupakan pengembangan dari teori komunikasi jarum hipodermik. Pesan yang disampaikan melalui media massa langsung ditujukan kepada komunikan tanpa perantara, misalnya pemimpin pendapat. Namun, pesan tersebut tidak mencapai semua komunikan dan juga tidak menimbulkan efek yang sama pada setiap komunikan.
Model Komunikasi Dua Tahap
Disebut komunikasi dua tahap karena model komunikasi ini dimulai dengan tahap pertama sebagai proses komunikasi antarpesona. Model ini menggambarkan bahwa pesan lewat media massa diterima oleh individu (pemimpin pendapat) yang terinformasi (well informed).
Para pemimpin pendapat itu menginterpretasi setiap pesan sesuai dengan frame of referente dan field of experience yang ada pada dirinya.
Model Komunikasi Multitahap
Model komunikasi multitahap menyatakan bahwa dalam laju komunikasi dari komunikator kepada komunikan terdapat sejumlah saluran yang berganti-ganti, artinya beberapa komunikan menerima pesan langsung dari komunikator melalui saluran media massa, lalu menyebarkan kepada komunikan lainnya. Pesan terpindahkan beberapa kali dari sumbernya melalui beberapa tahap.
Model Gerhard Maletzke
Gerhard Maletzke membuat modelnya berdasarkan elemen-elemen klasik yaitu pesan, media, dan komunikan. Tetapi, di antara media dan komunikan ia menambahkan elemen lain yaitu tekanan (kelebihan) atau kendala (kekurangan) media, dan citra media. Semua itu mempunyai pengaruh terhadap cara komunikan memperlakukannya.
Model Melvin de Fleur
Hampir sama dengan Wilbur Schramm, Melvin de Fleur memahami komunikasi dengan paradigma transmitter-message-channel-receiver-destination-feedback-noise. Menurut model Melvin de Fleur, transmitter atau sumber itu sendiri dianggap sebagai sebuah fase penyampaian pesan dalam komunikasi massa. Message adalah gagasan, ide, pikiran, perasaan, yang disampaikan transmitter kepada receiver. Channel adalah media yang mengantarkan informasi. Receiver berfungsi sebagai penerima dan decoder informasi.
Destination berfungsi menginterpretasi pesan menjadi sebuah makna. Feedback adalah tanggapan yang disampaikan receiver kepada transmitter. Model ini mengemukakan, bahwa dalam proses komunikasi bisa trejadi noise (gangguan) pada semua komponen komunikasi mulai dari transmitter, channel, receiver, maupun destination.
Misalnya, gangguan yang terjadi pada sumber bisa bersifat semantik, atau kepentingan subjektif, Gangguan pada channel bersifat teknis. Gangguan pada receiver bisa berupa interpretasi yang kurang tepat karena keterbatasan pengetahuan, wawasan, pendidikan, dan sebagainya.
Model HUB (Hierbert Ungurait Bohn)
Model HUB menunjukan bahwa proses komunikasi massa merupakan proses yang sirkuler, dinamis dan terus berkembang. Model ini berbentuk lingkaran untuk menunjukkan bahwa komunikasi adalah satu rangkaian aksi dan reaksi.
Model HUB mengibaratkan komunikasi sebagai proses yang mirip dengan peristiwa ketika sebuah batu kerikil dilemparkan ke dalam kolam, kerikil itu akan menimbulkan riak-riak yang akan terus membesar sampai menyentuh tepian kolam, dan memantul kembali ke tengah pusat riak. Isi komunikasi bisa berupa ide atau peristiwa seperti batu kerikil yang dilemparkan ke dalam kolam permasalahan manusia.
Agenda Setting Model
Agenda setting adalah pemilihan dan penonjolan isu tertentu yang dilakukan redaktur media massa yang lazim disebut penjaga gawang (gatekeeper). Media massa memberikan uji kasus tentang isu yang bernilai lebih penting.
Agenda setting menekankan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media massa pada satu isu dengan perhatian yang diberikan khalayak pada isu tersebut. Dengan kata lain, apa yang diabaikan atau dianggap penting oleh media massa akan diabaikan atau dianggap penting pula oleh masyarakat.
Model Komunikasi Linier
Komunikasi pada umumnya dianggap sebagai suatu fungsi linier. Seseorang mengomunikasikan pesan-pesannya melalui sebuah saluran kepada seorang penerima, yang kemudian memberikan umpan balik kepada pengirim tersebut (Gonzales, dalam Jahi, 1988:6).
Model Komunikasi Sirkuler
Orientasi pengertian komunikasi sebagai suatu proses adalah bahwa komunikasi itu proses yang kompleks, berlanjut dan tidak bisa berubah dengan sendirinya. David K. Berlo (dalam Miller, 2001:5) menyatakan: ”Kita memandang bahwa peristiwa dan hubungan adalah suatu proses yang dinamis terus-menerus berubah secara berlanjut. Ketika kita menyatakan komunikasi sebagai proses itu berarti komunikasi tersebut tidak memiliki permulaan, akhir, atau urutan peristiwa yang telah ditetapkan. Komunikasi tidaklah statis tetapi bergerak . Unsur-unsur di dalam suatu proses saling berhubungan; masing-masing memengaruhi satu sama lain.”
FAKTOR MANUSIA DALAM KOMUNIKASI
Secara ontogenetis, manusia berbeda pula antra yang satu dengan yang lainnya disebabkan pengalaman dan pendidikannya. Secara sosiologis, manusia juga berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sebagai akibat dari hasil hubungan sosial dan interaksi sosialnya.
Dalam komunikasi politik internasional, seorang ahli perang urat syaraf (psy-war) sudah terbiasa meneliti seorang tokoh politik atau negarawan yang akan dijadikan sasaran komunikasinya, tidak hanya berkisar pada pekerjaannya dan cita-citanya, tetapi sampai pada siapa ayahnya, ibunya, kakeknya, dan neneknya dan apa pula pekerjaan mereka.
Timbul pertanyaan: komunikasi itu selalu secara verbal, selalu menggunakan kata-kata, selamanya bersifat lidah? Jawabannya: tidak selalu. Ada kalanya komunikasi dilakukan secara nonverbal, tanpa kata-kata.
Dalam hubungan dengan komunikasi nonverbal ini, Bung Hatta merupakan contoh yang tepat, ia lebih banyak berkomunikasi secara nonverbal, dengan gerak-gerik dan perilaku. Ia tidak pernah berseru agar rakyat hidup sederhana seperti banyak dilontarkan oleh para pemimpin lainnya, tetapi ia sendiri memberi contoh bagaimana hidup sedaerhana. Ia tidak berkoar-koar lantang di atas mimbar supaya rakyat Jujur, tetapi ia sendiri menunjukan dirinya sebagai orang Jujur, dan sebagainya. Komunikasi Bung Hatta Sangat ampuh, menimbulkan dampak yang Sangat mengesankan, yang bukan hanya seketika, melainkan untuk masa abadi yang tidak ada batasnya.
PENGARUH KONSEP DALAM KOMUNIKASI
Dalam berkomunikasi, manusia mempergunakan konsep-konsep yang berlaku dalam benaknya, yaitu: konotasi, persepsi, homofil, heterofili, empati, persuasi, bidang keahlian, dan dinamika kepribadian. Selain itu, dalam berkomunikasi manusia juga Sangay kuat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang melingkupi sebagai factor eksternal.
Konotasi
Dalam benak manusia tersimpan beraneka ragam memori dan konsep, salah satunya hádala konotasi. Konotasi menyangkut kata-kata sebagai senjata komunikasi. Dalam memlih kata-kata untuk menyatakan suatu pesan perlu disadari, bahwa lambang kata yang mungkin memunyai pengertian yang berbeda bagi setiap orang.
Kata-kata mengandung dua pengertian, yakni denotatif¬ dan konotatif. Pengertian denotatif adalah pengertian biasa sebagaimana diartikan dalam kamus yang diterima secara umum oleh kebanyakan orang dengan bahasa dan kebudayaan yang sama. Pengertian konotatif adalah pengertian emosional dan mengandung penilaian tertentu (emocional or evaluative meaning) bedasarkan latar belakang dan pengalaman seseorang.
Persepsi, Field of Experience dan Frame of Reference
Menurut Rakhmat, persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (2007:51).
Dalam komunikasi, perhatian terhadap persepsi adalah satu hal yang mendasar. Efektivitas komunikasi antara lain ditentukan faktor persepsi. Salah persepsi bisa berakibat fatal, miscommunication dapat memunculkan misconception,misconception dapat menimbulkan miscommunication
Homofili (Kesamaan)
Dalam komunikasi, dalil kesamaan dan kedekatan (homofili) sering dipakai komunikator untuk meningkatkan kredibilitasnya (Rakhmat 2007:32). Orang menjadi terhormat dalam pandangan orang lain karena duduk berdampingan dengan anggota kabinet atau berjabatan tangan dengan presiden.
Sebagaimana dikutip Rakhmat, William Albyk memperkenalkan istilah meaningful symbol, yakni lambang yang mengandung arti sama-sama dimengerti oleh komunikator dan komunikan.Dengan demikian, seorang pemimpin atau seorang diplomat tidak akan mungkin mencapai tujuan komunikasinya jika ia tidak memperhatikan faktor homofili.Para ahli komunikasi yang lain menjelaskan arti homophili untuk menggambarkan derajat pasangan perorangan yang berinteraksi dan memiliki kesamaan dalam sifat (atribut) seperti kepercayaan, nilai, pendidikan, status sosial, dan sebagainya.
Hubungan sosial lebih erat terjadi antar perorangan yang masing-masing memiliki persamaan dalam pekerjan pendidikan.Lebih sering berkomunikasi akan lebih besar kemungkinan terjadinya homophili.
Heterofili (perbedaan)
Heterofili didefinisikan sebagai derjat dari pasangan orang-orang yang berinteraksi yang memiliki sifat-sifat tetentu yang berbeda. Orang-orang yang mengingkari homofili dan berupaya berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda dengannya, bisa menemukan kekecewaan dalam komunikasi. Semua itu menyebabkan adanya heterofili dalam bahasa dan konsep sehingga pesan-pesan yang mereka sampaikan sulit diterima dan bahkan diabaikan.
Empati
Empati erat sekali hubungannya dengan keragka referensi dan kondisi komunikan, serta situasi pada saat komunikasi berlangsung, Empati berada di pihak komunikator. Empati berarti kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada perasaan orang lain. Komunikasi akan sukses apabila kita memiliki kemampuan empati, yakni jika kita dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Persuasi
Persuasi adalah upaya untuk meyakinkan atau menanamkan pengaruh kepada orang lain dengan cara membujuk sehingga orang lain itu bersedia menerima pesan dan melakukan tindakan seperti yang dikehendaki. Teori ini mencakup teori psikoanalisis yang melukiskan manusia sebagai makhluk yang digerakkan oleh keinginan terpendam (homo falens). Teori komunikasi interpesonal banyak dipengaruhi konsepsi psikologi humanistis yang menggambarkan manusia strategi transaksional dengan lingkungannya (homo ludens).
Keahlian
Para ahli psikologi memandang komunikasi justru pada prilaku komunikasi. Sedang kan ahli liguistik melihat pada komponen-komponen yang membentuk struktur pesan. Ahli teknik memperhatikan berapa banyak gangguan (noise) yang terjadi selama proses komunikasi sebelum pesan sampai pada komunikan hingga komunikasi berakhir, dan berapa banyak pesan yang hilang.
Dinamika Kepribadian
Situasi dan kondisi sangat berpengaruh pada berlangsungnya komunikasi. Yang dimaksud dengan situasi adalah suasana pada saat pesan akan disampaikan. Sedangkan kondisi adalah keadaan fisik dan emosi komunikan saat komunikasi berlangsung.
ASPEK MEDIA DALAM KOMUNIKASI
Dalam proses komunikasi melalui media terdapat dua jenis proses. Menurut Effendy (1992:63), Edward Sapir memberi istilah primary processes dan secondary tehniques. Dengan bahasa, seseorang akan memahami pikiran atau perasaan orang lain. Sikap yang diekspresikan melalui bahasa belum tentu merupakan ungkapan sikap sebenarnya. Peliknya bahasa sebagai media komunikasi ialah karena bahasa mengandung pengertian konotatif selain denotatif. Media komunikasi yang kedua bersifat teknis dan berfungsi sebagai penerus atau pelipatganda pesan yang telah diinformasikan dengan bahasa tadi. Tetapi dalam keserbanekaan media komunikasi, seorang komunikator harus pandai memilih media mana yang paling efektif untuk menyampaikan pesannya.
HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI
Setiap kegiatan komunikasi, baik komunikasi antarpersonal, komunikasi kelompok, maupun komunikasimassa sudah dapat dipastikan akan menghadapi berbagai hambatan. Jenis-jenis hambatan komunikasi pada intinya terdiri dari hambatan psikologi, hambatan sosiokultural, dan hambatan interaksi verbal. Setiap komunikator selalu menginginkan komunikasi yang dilakukan dapat berlangsung efektif tanpa hambatan
Hambatan Psikologi
Hambatan komunikasi yang termasuk dalam hambatan psikologi adalah perbedaan kepentingan (interest), prasangka (prejudice), stereotip (stereotype), indiskriminasi (indiscrimination) dan rendahnya motivasi (motivation).
Hambatan Sosiokultur
Hambatan sosiokultur dalam komunikasi terbagi kedalamlima unsur yaitu keragaman etnik, perbedaan norma sosial, kekurangmampuan dalam berbahasa termasuk faktor semantik, dan pendidikan yang kurang merata.
Hambatan Interaksi Verbal
DeVito (1984) menemukan tujuh jenis hambatan yang sering terjadi pada komunikasi antarpesonal yang ia sebut sebagai barriers to verbal interaction. Pada komunikasi antarpesanal, hambatan-hambatan itu dapat terjadi pada pihak komunikator dan komunikan sekaligus secara bersama-sama atau masing-masing.
Hambatan Mekanis
Hambatan teknis sebagai konsekuensi penggunaan mediamassa. Hambatan mekanis pada media televisi terjadi pada saat stasiun atau pemancar penerima mendapat gangguan secara teknis maupun akibat cuaca buruk.

Komunikasi Organisasi

Haris & Nelson  ( 2008 ) => Komunikasi organisasi adalah suatu proses transaksional dan berkesinambungan dalam perilaku untuk memproduksi makna antar individu, kelompok dan organisasi.
Goldhaber ( 1993 ) => Komunikasi Organisasi adalah suatu proses perbuatan dan pertukaran pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling terkait untuk mengatasi ketidakpastian.
( uncertainty ) = > suatu informasi akan bernilai jika menyangkut ketidakpastian, semakin tidak pasti maka informasi semakin tinggi..
Heath & Bryant ( 2000 ) => Komuniaksi Organisasi adalah suatu studi yang berfokus pada bagaimana orang - orang dalam organisasi itu memperoleh informasi, membentuk opini, mengambil keputusan dan menyuarakan harapan - harapan mereka dalam organisasi serta bagaimana mencapai semua hal itu.
Komunikasi organisasi pada umumnya membahas tentang struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi.Komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergantung satu sama lain meliputi arus komunikasi vertikal dan horisontal.
Enam gaya komunikasi menurut Steward L.Tubbs dan Sylvia Moss adalah :

1) Gaya komunikasi mengendalikan

Gaya komunikasi mengendalikan (dalam bahasa Inggris: The Controlling Style) ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communications.

2) Gaya komunikasi dua arah

The Equalitarian Style Aspek penting gayakomunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan. The equalitarian style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way communication). Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.
3) The Structuring Style
Gaya komunikasi yang berstruktur ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk memengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut.
4) The Dynamic style
Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-oriented). The dynamic style of communication ini sering dipakai oleh para juru kampanye ataupun supervisor yang membawa para wiraniaga (salesmen atau saleswomen).
5) The Relinguishing Style
Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain.
Pesan-pesan dalamgayakomunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya.
6) The Withdrawal Style
Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut.
Definisi Komunikasi Organisasi
=>      suatu proses transaksional dan berkesinambungan dalam perilaku memproduksi makna antar individu, kelompok, dan organisasi (Harris & Nelson, 2008 : 19).
=>      suatu proses pembuatan dan pertukaran pesan-pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling terkait untuk mengatasi atau berurusan dengan ketidakpastian lingkungan (Goldhaber, 1993 : 15).
=>      suatu studi yang berfokus kepada hal bagaimana orang-orang memperoleh informasi, membentuk opini, mengambil keputusan, mengkoordinasikan usaha-usaha, menyuarakan harapan-harapan organisasi, dan bagaimana semua hal tersebut dinilai (Heath & Bryant, 2000 : 297).
Ciri-ciri Komunikasi Organisasi
Karakteristik komunikasi organisasi berdasarkan persepsi :
=>      Komunikasi organisasi terjadi di dalam suatu sistem terbuka yang kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungan internal (budaya) dan eksternal.
=>      Komunikasi organisasi melibatkan pesan-pesan dan arusnya, tujuan, arah, dan media yang digunakan.
=>      Komunikasi organisasi melibatkan orang-orang dengan sikap, perasaan, hubungan, dan kemampuan-kemampuannya.
(Goldhaber, 1993 : 14)
=>      Komunikasi organisasi ditujukan kepada audiens korporat seperti stakeholders, jurnalis, analis, regulator, dan legislator.
=>      Komunikasi organisasi memiliki perspektif jangka panjang dan tidak secara langsung ditujukan untuk tujuan penjualan.
=>      Komunikasi organisasi mengaplikasikan jenis yang berbeda sebab pesan-pesannya lebih formal dan tidak berlebihan seperti pesan-pesan komunikasi pemasaran.
(van Riel & Fombrun, 2007 : 20)
Fungsi Komunikasi Organisasi
Fungsi komunikasi secara tradisional :
=>      The production function
Fungsi produksi meliputi segala bentuk komunikasi yang mengkontrol dan mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan output sistem (produk atau jasa perusahaan).
=>      The maintenance function
Meliputi komunikasi yang meregulasikan sistem proses. Maintenance communication berfungsi untuk menjaga kestabilan operasi organisasi.
=>      The innovation function
Fungsi inovasi berkaitan dengan perubahan dalam organisasi. Dalam hal ini, komunikasi terlibat dalam pengembangan ide-ide dan praktek-praktek dalam perusahaan atau organisasi
=>      “Human function” dalam komunikasi organisasi yang menjelaskan fungsi komunikasi yang mempengaruhi perasaan para anggota organisasi akan harga diri (self-worth) dan kualitas hubungan-hubungan organisasi.
=>      Terdapat suatu opini bahwa sebenarnya komunikasi organisasi memiliki fungsi tunggal yaitu untuk mengurangi ketidakpastian. Inilah yang disebut sebagai the Reduction of Uncertainty Function.
Permasalahan Komunikasi Organisasi
Masalah-masalah yang sering muncul dalam di antara individu atau kelompok dalam suatu organisasi :
=>      Permasalahan kepercayaan atau kurangnya kepercayaan
=>      Masalah penciptaan kesalingtergantungan antar orang, tujuan bersama, dan persetujuan mengenai cara memperoleh tujuan tersebut
=>      Permasalahan pendistribusian penghargaan secara adil
=>      Masalah pemahaman tentang persetujuan bersama akan struktur sosial dalam organisasi
CRITIQUE & DISCUSSION
=>      Organizational Communication / Corporate Communication:
=>      Corporate Communication :
=>      Corporate communication is the total communication activity generated by a company to achieve its planned objectives (Jackson, 1987)
=>      Corporate communications focuses on the organization as a whole (Cornelisson, 2004 : 20)
=>      Terminology ??
=>      Mapping ??
=>      The same discourse ??
Perspective on Organizational Communication (Daniels, Spiker, Papa)
Manajemen Scietific dan Klasik
1.   Manajemen Scientific dari Frederick Taylor
Fokus: studi scientific dan proses kerja.
Prinsip-prinsip: efisiensi kerja.
Empat (4) Ide Taylor:
  • Ada satu cara terbaik untuk melakukan pekerjaan apapun, contohnya: studi waktu dan gerakan dapat menyingkap jumlah langkah yang paling sediki dan mempersingkat jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas dengan efisien.
  • Personil harus diseleksi secara scientific. Seseorang harus memilih dan menugaskan seseorang pada tugas menurut keterampilannya atau potensial bagi pengembangan keterampilan.
  • Pekerja harus dihargai dengan insentif yang sesuai dengan apa yang mereka hasilkan. Upah jam-an tidak tepat, bukan karena perbedaan dalam produktivitas individu melainkan kebutuhan ekonomi adalah faktor penting yang menjadi motif seseorang untuk bekerja.
  • Pekerjaan harus dibagi sehingga manager merencanakan pekerjaan dan pekerja mengikuti rencana. Dalam skemanya, Taylor menggambarkan bahwa setiap aspek diawasi oleh “functional foreman” yang berbeda.
Taylor: “Masalah utama dalam efektivitas organisasi mencakup ketidakmampuan manajemen untuk memperoleh pemenuhan dari pekerja. Setiap orang akan menghasilkan keuntungan di bawah manajemen scientific.”
  1. 2.   Manajemen Umum dari Henri Fayol
Fokus: struktur organisasi dan praktek manajemen.
14 Prinsip:
1)           Divisi kerja. Setiap anggota hanya memiliki satu pekerjaan.
2)           Otoritas dan tanggungjawab. Otoritas mencakup hak untuk memberi perintah dan kekuasaan untuk menuntut pemenuhan. Otoritas pejabat perusahaan tergantung posisinya, dan otoritas personal tergantung kemampuan dan pengalamannya.
3)           Disiplin, tergantung pada atasan yang baik, bersih, dan aturan yang adil, serta sanksi yang diterapkan dengan bijaksana.
4)           Kesatuan perintah. Pegawai menerima perintah dari satu orang dan hanya satu atasan untuk setiap tindakan.
5)           Kesatuan arahan. Sekelompok kegiatan dengan tujuan yang sama harus memiliki “satu kepala dan satu rencana”.
6)           Menomorduakan kepentingan individual.
7)           Pemberian upah. Karyawan harus dibayar dengan adil, yang memuaskan mereka dan perusahaan.
8)           Sentralisasi. Apakah pembuatan keputusan disentralisasikan (terbatas pada manajemen tingkat yang lebih tinggi), atau desentralisasi (ditujukan untuk bawahan) tergantung pada kondisi organisasi.
9)           Rantai skalar. Sistem otoritas disusun seperti hierarki dengan garis perintah yang jelas dari satu level ke yang lainnya, namun sistem harus bersedia dipindahkan dari rantai perintah ketika dibutuhkan.
10)       Keteraturan. Ada ruang bagi setiap karyawan, dan setiap karyawan harus berada dalam tempatnya.
11)        Keadilan. Personil diperlakukan dengan kebaikan dan keadilan.
12)       Stabilitas dalam kedudukan. Berasumsi bahwa karyawan yang memiliki kemampuan untuk melakukan sebuah pekerjaan, ia pasti masih memiliki waktu untuk belajar dan berhasil dalam melakukannya.
13)       Inisiatif. Kemampuan untuk mengemukakan dan melaksanakan sebuah rencana adalah sumber daya organisasi yang bernilai.
14)       Esprit de corps (perasaan setia dan saling hormat menghormati). Manajemen harus berusaha untuk memajukan rasa kesatuan, harmoni dan kohesi.
3.  Teori Birokratik Weber
      “Birokratisasi merupakan konsep ideal bagi organisasi modern. Dalam organisasi yang kompleks dibutuhkan kecepatan, ketepatan, kepastian, dan kontinuitas. Semua hal tersebut dapat dicapai jika organisasi didesain sebisa mungkin seperti mesin.”
6 Ciri dasar:
ü      Sistem hierarki otoritas yang jelas.
ü      Divisi kerja berdasarkan spesialisasi.
ü      Sistem aturan yang lengkap mencakup hak, tanggungjawab, dan kewajiban personil.
ü      Prosedur yang sempurna untuk performa kerja.
ü      Impersonalitas (bukan perseorangan) dalam hubungan organisasional manusiawi.
ü      Seleksi dan promosi personil atas dasar kompetensi teknikal.
ü      Konsep Taylor, Fayol dan Weber tidaklah identik.
Hal tersebut tampak pada:
=>     Konsep dari Taylor mengenai mandor yang fungsional (functional foremanship) dimana pekerja menerima perintah dari atasan yang berbeda, bertolak belakang dengan ide kesatuan perintah dari Fayol dan Weber.
=>     Sikap Fayol terhadap fleksibilitas dalam struktur organisasi, pengambilan keputusan yang sentralisasi atau desentralisasi untuk menyesuaikan dengan     kondisi organisasi, serta menyokong esprit de corps, agak inkonsisten dengan anjuran Weber untuk kepastian, aturan yang konstan serta hubungan yang impersonal.
Hal yang umum dalam teori manajemen scientific dan klasik:
  • Organisasi dijalankan oleh otoritas manajemen. Karyawan adalah alat untuk melaksanakan rencana manajemen. Implikasinya komunikasi organisasi adalah sebagai alat kontrol manajerial dan koordinasi proses organisasi.
  • Teori scientific dan klasik meyakini bahwa orang berperilaku menurut model rasional dan ekonomi. Motivasi utama bekerja adalah uang.
Motivasi sosial dan politik dalam perilaku organisasi dianggap tidak relevan atau merugikan bagi keefektifan organisasi.
Sistem struktur dan fungsi organisasi yang rasional akan mengurangi efek buruk atas konflik kelompok, persaingan pribadi, dendam, perjuangan kekuasaan, dan egosime.
Masing-masing teoritisi memajukan resep agar menyerupai mesin bagi desain organisasi.
   Teori Transisional
1)     Teori Administrasi dari Mary Parker Follett
Fokus: cara membangun dan menjaga demokrasi melalui integrasi perbedaan, persaingan kepentingan.
Dua konsep dasar dari teori Follett, yaitu:
=>     Prinsip saling memberikan respon. Interaksi manusia selalu mencakup pengaruh bersama dan simultan.
=>     Tujuan dari integrasi yaitu kondisi yang harmonis dari penggabungan hal-hal yang berbeda, yang menghasilkan bentuk baru, entitas baru.

2)     Fungsi Eksekutif dari Chester Barnard
Barnard meyakini bahwa individu anggota organisasi sebagai faktor dasar yang strategis.
Fungsi utama seorang eksekutif adalah membangun dan menjaga sistem komunikasi.
Pada buku Pace & Faules (1994, Hal. 38-48), Teori Transisional dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu Behavioral Theories dan Systems Theories.
Teori yang termasuk Behavioral Theories:
  1. Teori Komunikasi Otoritas dari Chester Barnard
Empat (4) kondisi yang harus dihadapi sebelum seseorang menerima pesan sebagai sesuatu yang otoritatif (berwenang):
=>      Seseorang dapat dan memahami pesan.
=>      Seseorang yakin, pada saat keputusan, bahwa pesan tidak inkonsisten dengan tujuan organisasi.
=>      Seseorang yakin, pada saat keputusan berlanjut, bahwa pesan tersebut sesuai dengan kepentingan personalnya secara keseluruhan.
=>      Seseorang mampu secara mental dan fisik untuk patuh terhadap pesan Barnard menyadari bahwa banyak pesan tidak dapat dianalisa dengan sengaja, dinilai, dan diterima atau ditolak; sebaliknya, sebagian besar berupa instruksi, perintah, dan pesan persuasi yang dimasukkan dalam zona tidak penting seseorang.
100%                            0                           100%
Willing                    Rejection         Willing
Beberapa pesan dalam sebuah organisasi dirancang untuk memperluas zona tidak penting karyawan.
  1. Teori Human Relations dari Elton Mayo
  2. Teori Fusi dari Bakke dan Argyris         
  3. Teori Linking Pin dari Likert
Gambar Linking Pin
Teori yang termasuk dalam Teori Sistem:
v     Teori Sistem Sosial dari Elihu Katz dan Kahn
v     Ad-Hocracy dan Teori Buck Rogers
v     Toffler mengatakan bahwa ad-hocracy adalah birokrasi dengan ciri-ciri yang baru (bergerak cepat, kaya informasi, sangat aktif, berubah konstan, diisi unit-unit yang tidak abadi dan individu yang sangat mobile.
Gerakan Hubungan Manusiawi (The Human Relations Movement).
Studi Howthorne dan Elton Mayo
  • Studi pencahayaan (mengetahui hubungan antara kondisi lampu (pencahayaan) dalam lingkungan kerja dan produktivitas pekerja).
  • Studi ruang pemasangan saluran (mengetahui hubungan kondisi kerja yang bervariasi dan produktivitas).
  • Program wawancara (mengetahui sikap mereka terhadap kondisi kerja, supervisor, dan kerja secara umum). hasilnya sikap karyawan tergantung pada organisasi sosial dari kelompok dimana mereka kerja dan posisi mereka dalam kelompok tersebut.
  • Studi Bank-Wiring (mengetahui efek proses sosial kelompok kerja pada produktivitas). Hasilnya yaitu bahwa norma-norma kelompok kerja mempengaruhi standar performa.
Perkembangan Sumber Daya Manusia (Human Resource Develompment)
  1. Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow
Ada lima kebutuhan:
v     Kebutuhan fisiologikal: makanan, oksigen, serta kebutuhan dasar lainnya (sandang, pangan)
v     Kebutuhan akan rasa aman: perlindungan dari bahaya, bebas dari ancaman.
v     Kebutuhan sosial akan cinta, kasih sayang, afiliasi, dan penerimaan.
v     Kebutuhan dihargai untuk status, harga diri.
v     Kebutuhan aktualisasi diri (potensi seseorang sebagai makhluk hidup). Kebutuhan aktualisasi diri adalah yang paling abstrak dan berada pada level yang paling tinggi.
  1. Teori X dan Teori Y dari Douglas McGregor
Manager yang masuk dalam Teori X, yaitu mereka yang percaya bahwa karyawan tidak suka bekerja dan akan berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya.
Teori X membawa pada kecurigaan, pengawasan yang sangat ketat, dan atmosfir tindakan hukum.
Manager Teori Y percaya bahwa kerja adalah sesuatu yang alamiah seperti bermain. Karyawan ingin bekerja.
Dibandingkan manager pada Teori X, manager pada Teori Y lebih dapat mengembangkan iklim kepercayaan terhadap karyawan yang dibutuhkan untuk perkembangan sumber daya manusia
  1. Empat Sistem dari Likert
Empat tipe dasar orientasi manajemen atau sistem:
v     Exploitative-authoritative (Sistem 1).
v     Sistem ini sesuai dengan Teori X dari McGregor.
v     Benevolent-authoritative (Sistem 2)
v     Consultative (Sistem 3)
v     Participative (Sistem 4).
v     Sistem ini sesuai dengan Teori Y dari McGregor.
  1. Peralihan Pada Teori Z
Ouchi: Teori Z adalah percampuran (hybrid/kawin silang) antara sistem Amerika dan Jepang.
Spesialisasi kerja pada organisasi hibrida yaitu moderat, namun banyak fungsi dicapai melalui tim proyek dan pemaksaan tugas yang mungkin sementara/ temporer. Pengambilan keputusan tidak begitu tersentralisasi dan tergantuk pada pencarian kesepakatan informal.
Haris & Nelson  ( 2008 ) => Komunikasi organisasi adalah suatu proses transaksional dan berkesinambungan dalam perilaku untuk memproduksi makna antar individu, kelompok dan organisasi.
Goldhaber ( 1993 ) => Komunikasi Organisasi adalah suatu proses perbuatan dan pertukaran pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling terkait untuk mengatasi ketidakpastian.
( uncertainty ) = > suatu informasi akan bernilai jika menyangkut ketidakpastian, semakin tidak pasti maka informasi semakin tinggi..
Heath & Bryant ( 2000 ) => Komuniaksi Organisasi adalah suatu studi yang berfokus pada bagaimana orang - orang dalam organisasi itu memperoleh informasi, membentuk opini, mengambil keputusan dan menyuarakan harapan - harapan mereka dalam organisasi serta bagaimana mencapai semua hal itu.
Komunikasi organisasi pada umumnya membahas tentang struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi.Komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergantung satu sama lain meliputi arus komunikasi vertikal dan horisontal.
Enam gaya komunikasi menurut Steward L.Tubbs dan Sylvia Moss adalah :

1) Gaya komunikasi mengendalikan

Gaya komunikasi mengendalikan (dalam bahasa Inggris: The Controlling Style) ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communications.

2) Gaya komunikasi dua arah

The Equalitarian Style Aspek penting gayakomunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan. The equalitarian style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way communication). Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.
3) The Structuring Style
Gaya komunikasi yang berstruktur ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk memengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut.
4) The Dynamic style
Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-oriented). The dynamic style of communication ini sering dipakai oleh para juru kampanye ataupun supervisor yang membawa para wiraniaga (salesmen atau saleswomen).
5) The Relinguishing Style
Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain.
Pesan-pesan dalamgayakomunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya.
6) The Withdrawal Style
Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut.
Definisi Komunikasi Organisasi
=>      suatu proses transaksional dan berkesinambungan dalam perilaku memproduksi makna antar individu, kelompok, dan organisasi (Harris & Nelson, 2008 : 19).
=>      suatu proses pembuatan dan pertukaran pesan-pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling terkait untuk mengatasi atau berurusan dengan ketidakpastian lingkungan (Goldhaber, 1993 : 15).
=>      suatu studi yang berfokus kepada hal bagaimana orang-orang memperoleh informasi, membentuk opini, mengambil keputusan, mengkoordinasikan usaha-usaha, menyuarakan harapan-harapan organisasi, dan bagaimana semua hal tersebut dinilai (Heath & Bryant, 2000 : 297).
Ciri-ciri Komunikasi Organisasi
Karakteristik komunikasi organisasi berdasarkan persepsi :
=>      Komunikasi organisasi terjadi di dalam suatu sistem terbuka yang kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungan internal (budaya) dan eksternal.
=>      Komunikasi organisasi melibatkan pesan-pesan dan arusnya, tujuan, arah, dan media yang digunakan.
=>      Komunikasi organisasi melibatkan orang-orang dengan sikap, perasaan, hubungan, dan kemampuan-kemampuannya.
(Goldhaber, 1993 : 14)
=>      Komunikasi organisasi ditujukan kepada audiens korporat seperti stakeholders, jurnalis, analis, regulator, dan legislator.
=>      Komunikasi organisasi memiliki perspektif jangka panjang dan tidak secara langsung ditujukan untuk tujuan penjualan.
=>      Komunikasi organisasi mengaplikasikan jenis yang berbeda sebab pesan-pesannya lebih formal dan tidak berlebihan seperti pesan-pesan komunikasi pemasaran.
(van Riel & Fombrun, 2007 : 20)
Fungsi Komunikasi Organisasi
Fungsi komunikasi secara tradisional :
=>      The production function
Fungsi produksi meliputi segala bentuk komunikasi yang mengkontrol dan mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan output sistem (produk atau jasa perusahaan).
=>      The maintenance function
Meliputi komunikasi yang meregulasikan sistem proses. Maintenance communication berfungsi untuk menjaga kestabilan operasi organisasi.
=>      The innovation function
Fungsi inovasi berkaitan dengan perubahan dalam organisasi. Dalam hal ini, komunikasi terlibat dalam pengembangan ide-ide dan praktek-praktek dalam perusahaan atau organisasi
=>      “Human function” dalam komunikasi organisasi yang menjelaskan fungsi komunikasi yang mempengaruhi perasaan para anggota organisasi akan harga diri (self-worth) dan kualitas hubungan-hubungan organisasi.
=>      Terdapat suatu opini bahwa sebenarnya komunikasi organisasi memiliki fungsi tunggal yaitu untuk mengurangi ketidakpastian. Inilah yang disebut sebagai the Reduction of Uncertainty Function.
Permasalahan Komunikasi Organisasi
Masalah-masalah yang sering muncul dalam di antara individu atau kelompok dalam suatu organisasi :
=>      Permasalahan kepercayaan atau kurangnya kepercayaan
=>      Masalah penciptaan kesalingtergantungan antar orang, tujuan bersama, dan persetujuan mengenai cara memperoleh tujuan tersebut
=>      Permasalahan pendistribusian penghargaan secara adil
=>      Masalah pemahaman tentang persetujuan bersama akan struktur sosial dalam organisasi
CRITIQUE & DISCUSSION
=>      Organizational Communication / Corporate Communication:
=>      Corporate Communication :
=>      Corporate communication is the total communication activity generated by a company to achieve its planned objectives (Jackson, 1987)
=>      Corporate communications focuses on the organization as a whole (Cornelisson, 2004 : 20)
=>      Terminology ??
=>      Mapping ??
=>      The same discourse ??
Perspective on Organizational Communication (Daniels, Spiker, Papa)
Manajemen Scietific dan Klasik
1.   Manajemen Scientific dari Frederick Taylor
Fokus: studi scientific dan proses kerja.
Prinsip-prinsip: efisiensi kerja.
Empat (4) Ide Taylor:
  • Ada satu cara terbaik untuk melakukan pekerjaan apapun, contohnya: studi waktu dan gerakan dapat menyingkap jumlah langkah yang paling sediki dan mempersingkat jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas dengan efisien.
  • Personil harus diseleksi secara scientific. Seseorang harus memilih dan menugaskan seseorang pada tugas menurut keterampilannya atau potensial bagi pengembangan keterampilan.
  • Pekerja harus dihargai dengan insentif yang sesuai dengan apa yang mereka hasilkan. Upah jam-an tidak tepat, bukan karena perbedaan dalam produktivitas individu melainkan kebutuhan ekonomi adalah faktor penting yang menjadi motif seseorang untuk bekerja.
  • Pekerjaan harus dibagi sehingga manager merencanakan pekerjaan dan pekerja mengikuti rencana. Dalam skemanya, Taylor menggambarkan bahwa setiap aspek diawasi oleh “functional foreman” yang berbeda.
Taylor: “Masalah utama dalam efektivitas organisasi mencakup ketidakmampuan manajemen untuk memperoleh pemenuhan dari pekerja. Setiap orang akan menghasilkan keuntungan di bawah manajemen scientific.”
  1. 2.   Manajemen Umum dari Henri Fayol
Fokus: struktur organisasi dan praktek manajemen.
14 Prinsip:
1)           Divisi kerja. Setiap anggota hanya memiliki satu pekerjaan.
2)           Otoritas dan tanggungjawab. Otoritas mencakup hak untuk memberi perintah dan kekuasaan untuk menuntut pemenuhan. Otoritas pejabat perusahaan tergantung posisinya, dan otoritas personal tergantung kemampuan dan pengalamannya.
3)           Disiplin, tergantung pada atasan yang baik, bersih, dan aturan yang adil, serta sanksi yang diterapkan dengan bijaksana.
4)           Kesatuan perintah. Pegawai menerima perintah dari satu orang dan hanya satu atasan untuk setiap tindakan.
5)           Kesatuan arahan. Sekelompok kegiatan dengan tujuan yang sama harus memiliki “satu kepala dan satu rencana”.
6)           Menomorduakan kepentingan individual.
7)           Pemberian upah. Karyawan harus dibayar dengan adil, yang memuaskan mereka dan perusahaan.
8)           Sentralisasi. Apakah pembuatan keputusan disentralisasikan (terbatas pada manajemen tingkat yang lebih tinggi), atau desentralisasi (ditujukan untuk bawahan) tergantung pada kondisi organisasi.
9)           Rantai skalar. Sistem otoritas disusun seperti hierarki dengan garis perintah yang jelas dari satu level ke yang lainnya, namun sistem harus bersedia dipindahkan dari rantai perintah ketika dibutuhkan.
10)       Keteraturan. Ada ruang bagi setiap karyawan, dan setiap karyawan harus berada dalam tempatnya.
11)        Keadilan. Personil diperlakukan dengan kebaikan dan keadilan.
12)       Stabilitas dalam kedudukan. Berasumsi bahwa karyawan yang memiliki kemampuan untuk melakukan sebuah pekerjaan, ia pasti masih memiliki waktu untuk belajar dan berhasil dalam melakukannya.
13)       Inisiatif. Kemampuan untuk mengemukakan dan melaksanakan sebuah rencana adalah sumber daya organisasi yang bernilai.
14)       Esprit de corps (perasaan setia dan saling hormat menghormati). Manajemen harus berusaha untuk memajukan rasa kesatuan, harmoni dan kohesi.
3.  Teori Birokratik Weber
      “Birokratisasi merupakan konsep ideal bagi organisasi modern. Dalam organisasi yang kompleks dibutuhkan kecepatan, ketepatan, kepastian, dan kontinuitas. Semua hal tersebut dapat dicapai jika organisasi didesain sebisa mungkin seperti mesin.”
6 Ciri dasar:
ü      Sistem hierarki otoritas yang jelas.
ü      Divisi kerja berdasarkan spesialisasi.
ü      Sistem aturan yang lengkap mencakup hak, tanggungjawab, dan kewajiban personil.
ü      Prosedur yang sempurna untuk performa kerja.
ü      Impersonalitas (bukan perseorangan) dalam hubungan organisasional manusiawi.
ü      Seleksi dan promosi personil atas dasar kompetensi teknikal.
ü      Konsep Taylor, Fayol dan Weber tidaklah identik.
Hal tersebut tampak pada:
=>     Konsep dari Taylor mengenai mandor yang fungsional (functional foremanship) dimana pekerja menerima perintah dari atasan yang berbeda, bertolak belakang dengan ide kesatuan perintah dari Fayol dan Weber.
=>     Sikap Fayol terhadap fleksibilitas dalam struktur organisasi, pengambilan keputusan yang sentralisasi atau desentralisasi untuk menyesuaikan dengan     kondisi organisasi, serta menyokong esprit de corps, agak inkonsisten dengan anjuran Weber untuk kepastian, aturan yang konstan serta hubungan yang impersonal.
Hal yang umum dalam teori manajemen scientific dan klasik:
  • Organisasi dijalankan oleh otoritas manajemen. Karyawan adalah alat untuk melaksanakan rencana manajemen. Implikasinya komunikasi organisasi adalah sebagai alat kontrol manajerial dan koordinasi proses organisasi.
  • Teori scientific dan klasik meyakini bahwa orang berperilaku menurut model rasional dan ekonomi. Motivasi utama bekerja adalah uang.
Motivasi sosial dan politik dalam perilaku organisasi dianggap tidak relevan atau merugikan bagi keefektifan organisasi.
Sistem struktur dan fungsi organisasi yang rasional akan mengurangi efek buruk atas konflik kelompok, persaingan pribadi, dendam, perjuangan kekuasaan, dan egosime.
Masing-masing teoritisi memajukan resep agar menyerupai mesin bagi desain organisasi.
   Teori Transisional
1)     Teori Administrasi dari Mary Parker Follett
Fokus: cara membangun dan menjaga demokrasi melalui integrasi perbedaan, persaingan kepentingan.
Dua konsep dasar dari teori Follett, yaitu:
=>     Prinsip saling memberikan respon. Interaksi manusia selalu mencakup pengaruh bersama dan simultan.
=>     Tujuan dari integrasi yaitu kondisi yang harmonis dari penggabungan hal-hal yang berbeda, yang menghasilkan bentuk baru, entitas baru.

2)     Fungsi Eksekutif dari Chester Barnard
Barnard meyakini bahwa individu anggota organisasi sebagai faktor dasar yang strategis.
Fungsi utama seorang eksekutif adalah membangun dan menjaga sistem komunikasi.
Pada buku Pace & Faules (1994, Hal. 38-48), Teori Transisional dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu Behavioral Theories dan Systems Theories.
Teori yang termasuk Behavioral Theories:
  1. Teori Komunikasi Otoritas dari Chester Barnard
Empat (4) kondisi yang harus dihadapi sebelum seseorang menerima pesan sebagai sesuatu yang otoritatif (berwenang):
=>      Seseorang dapat dan memahami pesan.
=>      Seseorang yakin, pada saat keputusan, bahwa pesan tidak inkonsisten dengan tujuan organisasi.
=>      Seseorang yakin, pada saat keputusan berlanjut, bahwa pesan tersebut sesuai dengan kepentingan personalnya secara keseluruhan.
=>      Seseorang mampu secara mental dan fisik untuk patuh terhadap pesan Barnard menyadari bahwa banyak pesan tidak dapat dianalisa dengan sengaja, dinilai, dan diterima atau ditolak; sebaliknya, sebagian besar berupa instruksi, perintah, dan pesan persuasi yang dimasukkan dalam zona tidak penting seseorang.
100%                            0                           100%
Willing                    Rejection         Willing
Beberapa pesan dalam sebuah organisasi dirancang untuk memperluas zona tidak penting karyawan.
  1. Teori Human Relations dari Elton Mayo
  2. Teori Fusi dari Bakke dan Argyris         
  3. Teori Linking Pin dari Likert
Gambar Linking Pin
Teori yang termasuk dalam Teori Sistem:
v     Teori Sistem Sosial dari Elihu Katz dan Kahn
v     Ad-Hocracy dan Teori Buck Rogers
v     Toffler mengatakan bahwa ad-hocracy adalah birokrasi dengan ciri-ciri yang baru (bergerak cepat, kaya informasi, sangat aktif, berubah konstan, diisi unit-unit yang tidak abadi dan individu yang sangat mobile.
Gerakan Hubungan Manusiawi (The Human Relations Movement).
Studi Howthorne dan Elton Mayo
  • Studi pencahayaan (mengetahui hubungan antara kondisi lampu (pencahayaan) dalam lingkungan kerja dan produktivitas pekerja).
  • Studi ruang pemasangan saluran (mengetahui hubungan kondisi kerja yang bervariasi dan produktivitas).
  • Program wawancara (mengetahui sikap mereka terhadap kondisi kerja, supervisor, dan kerja secara umum). hasilnya sikap karyawan tergantung pada organisasi sosial dari kelompok dimana mereka kerja dan posisi mereka dalam kelompok tersebut.
  • Studi Bank-Wiring (mengetahui efek proses sosial kelompok kerja pada produktivitas). Hasilnya yaitu bahwa norma-norma kelompok kerja mempengaruhi standar performa.
Perkembangan Sumber Daya Manusia (Human Resource Develompment)
  1. Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow
Ada lima kebutuhan:
v     Kebutuhan fisiologikal: makanan, oksigen, serta kebutuhan dasar lainnya (sandang, pangan)
v     Kebutuhan akan rasa aman: perlindungan dari bahaya, bebas dari ancaman.
v     Kebutuhan sosial akan cinta, kasih sayang, afiliasi, dan penerimaan.
v     Kebutuhan dihargai untuk status, harga diri.
v     Kebutuhan aktualisasi diri (potensi seseorang sebagai makhluk hidup). Kebutuhan aktualisasi diri adalah yang paling abstrak dan berada pada level yang paling tinggi.
  1. Teori X dan Teori Y dari Douglas McGregor
Manager yang masuk dalam Teori X, yaitu mereka yang percaya bahwa karyawan tidak suka bekerja dan akan berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya.
Teori X membawa pada kecurigaan, pengawasan yang sangat ketat, dan atmosfir tindakan hukum.
Manager Teori Y percaya bahwa kerja adalah sesuatu yang alamiah seperti bermain. Karyawan ingin bekerja.
Dibandingkan manager pada Teori X, manager pada Teori Y lebih dapat mengembangkan iklim kepercayaan terhadap karyawan yang dibutuhkan untuk perkembangan sumber daya manusia
  1. Empat Sistem dari Likert
Empat tipe dasar orientasi manajemen atau sistem:
v     Exploitative-authoritative (Sistem 1).
v     Sistem ini sesuai dengan Teori X dari McGregor.
v     Benevolent-authoritative (Sistem 2)
v     Consultative (Sistem 3)
v     Participative (Sistem 4).
v     Sistem ini sesuai dengan Teori Y dari McGregor.
  1. Peralihan Pada Teori Z
Ouchi: Teori Z adalah percampuran (hybrid/kawin silang) antara sistem Amerika dan Jepang.
Spesialisasi kerja pada organisasi hibrida yaitu moderat, namun banyak fungsi dicapai melalui tim proyek dan pemaksaan tugas yang mungkin sementara/ temporer. Pengambilan keputusan tidak begitu tersentralisasi dan tergantuk pada pencarian kesepakatan informal.

Komunikasi Internasional

Sastroputro komunikasi internasional merupakan bagian dari komunikasi massa yang secara umum memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
v     Komunikator (penyampai pesan), biasanya berupa lembaga yaitu suatu organisasi yang teratur dan memenuhi syarat-syarat tertentu seperti tujuan, struktur, norma dan legalitas tertentu. Organisasi tersebut bisa berupa negara, bisa pula non-negara (Non Governmental Organizations).
v     Pesannya bersifat umum, artinya terbuka untuk diketahui oleh siapapun yang berminat dan perhatian terhadapnya.
v     Penyebaran pesanya bersifat serentak, artinya dilakukan pada waktu yang bersamaan.
v     Komunikannya banyak orang.
v     Sarana yang digunakan adalah mediamassa, yaitu media yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan kepada banyak orang (massa).
v     Umpan baliknya tertunda (delayed feedback / indirect feedback) melalui suatu tenggang waktu.
v     Komunikasinya bersifat satu arah (one way traffic). Sekali lagi untuk komunikasi diplomatik tidak selalu demikian.
v     Bila digunakan sarana elektronik, maka penyebarannya bersifat selintas.
v     Komunikatornya bersifat selektif (memilih yang penting bagi dirinya).
Gerhard Maletzke menjelaskan Komunikasi internasional dan Komunikasi Antar Budaya:
}       Komunikasi internasional dimaksudkan sebagai komunikasi antar bangsa dan negara. Sedangkan Komunikasi antar budaya dimaksudkan sebagai komunikasi antar manusia yang berbeda kebudayaannya.
}        Komunikasi internasional dapat berbentuk diplomasi dan propaganda serta seringkali berhubungan dengan situasi Intercultural dan Interracial Communication.
}        Dalam komunikasi internasional, setiap interaksi dipengaruhi oleh kebijaksanaan, tujuan dan kepentingan serta keadaan ekonomi masing-masing negara. Sedangkan komunikasi antar budaya merupakan proses pertukaran pikiran dan gagasan antara masyarakat  yang berbeda kebudayaannya. Dengan demikian komunikasi antar budaya sebenarnya merupakan komunikasi yang biasa saja.v

Pertekom

Kemajuan teknologi memang sangat membantu khususnya di bidang perindustrian dan sektor ekonomi. Akan tetapi kemajuan akan memberikan dampak kepada aspek- aspek lain baik itu langsung maupun tidak langsung.
Suatu interaksi akan menghasilkan pesan yang dapat kita sebut sebagai kegiatan komunikasi. Dan sebenarnya perkembangan teknologi sangat memberikan pengaruh yang besar terhadap efesiensi dalan berinteraksi.
Kemajuan teknologi memang sangat membantu khususnya di bidang perindustrian dan sektor ekonomi. Akan tetapi kemajuan akan memberikan dampak kepada aspek- aspek lain baik itu langsung maupun tidak langsung.
Suatu interaksi akan menghasilkan pesan yang dapat kita sebut sebagai kegiatan komunikasi. Dan sebenarnya perkembangan teknologi sangat memberikan pengaruh yang besar terhadap efesiensi dalan berinteraksi.
KOMPUTER
Dahulu :
Komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah informasi menurut prosedur yang telah dirumuskan..
Komputer digital pertama, dengan ukuran dan biaya yang besar, sebagian besar mengerjakan perhitungan ilmiah. ENIAC, merupakan komputer awal AS yang didesain untuk memperhitungkan tabel ilmu balistik untuk persenjataan (artileri). CSIR Mk I, komputer pertama Australia, mengevaluasi pola curah hujan.
Sekarang :
saat ini komputer digunakan untuk mengotomatiskan banyak koleksi data yang selama ini dikerjakan oleh manusia. dan dalam bidang pendidikan, ilmuwan di berbagai bidang mulai memakai komputer untuk menganalisa. bisnis, organisasi, dan pemerintah sering menggunakan komputer kecil untuk menyelesaikan tugas.
PC menjadi populer untuk mengerjakan tugas, menulis, dan mencetak dokumen.
Dengan perkembangan yang sangat pesat, komputer sekarang digunakan untuk berbagai macam aktivitas, seperti mendengarkan musik, mengerjakan tugas, menyimpan data, penggunaan internet, bermain game, dan membuat suatu program.
RADIO
Dahulu :
Pada awalnya, gelombang elektromagnetik ditemukan terlebih dahulu oleh James Clerk Maxwell. Lalu dikembangkan dan ditemukan alat komunikasi yang dinamakan radio. Penggunaan awal radio adalah untuk mengrimkan pesan telegraf dengan menggunakan kode Morse oleh Maritim, antara kapal dan darat.
Sekarang :
Pada perkembangannya, radio dapat digunakan untuk kepentingan umum. Seperti promosi, film, iklan, dll. Siaran pertama kali dimulai pada tahun 1920-an yang dipelopori oleh Amerika Serikat dan Eropa. Bentuk radio sudah banyak dimodifikasi, contohnya: jaringan tanpa kabel, komunikasi bergerak di segala jenis, dan juga penyiaran radio.
TELEVISI
Dahulu :
Televisi berawal dari ditemukannya sebuah gelombang elektromagnetik, yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday. Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik. Televise pada zaman tersebut hanya berwarna hitam dan putih saja, dan tidak dapat mengluarkan suara. Hanya gambar yang bergerak.
Sekarang :
Pada perkembangan, televisi memiliki layar berwarna dan dapat mengeluarkan suara. bhakan sekarang ini siaran televisi bisa dilihat di Internet dan dapat dikontrol dengan manusia.


Media Relations

Dulu pada zaman Jerman  hanya terkenal press relations merupakan awal press yang dimana hubungan press hanya menjalin dengan media cetak. hal ini tidak mengherankan karena media cetak merupakan media massa pertama dalam peradaban manusia.
Media Cetak berkembang pada abad ke -16, sedangkan Media Penyiaran berkembang setelah umat manusia memasuki abad ke - 20. Karena itu media cetak menjadi begitu mengakar. Tradisi membaca dianggap lebik baik pada saat itu akan tetapi setelah mengalami perkembangan teknologi munculah yang dinamakan media online setelah media elektronika.
Media Relations begitu penting dalam kegiatan Public Relations ( PR ) karenamerupakan proses komunikasi kepada publik untuk menjalin relasi yang baik sehingga tercapai tujuan citra positif atau reputasi baik.
Tugas Media Relations Officer untuk memahami kebutuhan media tersebut dan berusaha untuk bisa memnuhi kebutuhan itu. Oleh sebab itu, seorang media relations perlu bisa memahami bagaimana cara media massa atau bagaimana media massa bekerja.
PRO / Public Relations Officer => untuk menyampaikan informais kepada khalayak.
MRO / Media Relations Officer => media yang melaksanakan fungsi layanan publik dan memberi informasi kepada khalayak / suatu organisasi.
Media Relations adalah Bagian dari Public Relations ( PR ) eksternal yang membina dan mengembangkan hubungan baik dengan media massa sebagai sarana komunikasi antara organisasi dan publiknya untuk mencapai tujuan organisasi.
Praktik Media Relations adalah :
=> Pengumpulan data.
=> Merumuskan permasalahan.
=> Perencanaan dan penyusunan program.
=> Menjalankan rencana itu melalui tindakan dan komunikasi.
=> Evaluasi.
Tahapan - tahapan Public Relations adalah
=> Analisa sikap dan relasi organisasi dengan lingkungannya.
=> Penentuan sikap tiap kelompok pada organisasi.
=> Analisa Opini.
=> Anilisa potensi masalah, kebutuhan atau peluang.
=> Perumusan kebijakan.
=> Rencana perbaikan sikap kelompok.
=> Pelaksanaan Kegiatan terencana.
=> Umpan Balik, Evaluasi dan penyesuaian.
Hubungan Fungsional Organisasi Dan Public Relations adalah :
v     Visi dan Misi Organisasi.
v     Visi dan Misi Divisi PR.
v     Tujuan Divisi PR.
v     Sasaran media relations, sasaran community relations, sarasan costumer relations dan sasaran employer relations.
Kriteria Media Relations adalah :
v     Komitmen adalah kesungguhan dari pihak yang terlibat dalam program untuk memberikan hasil yang terbaik.
v     Kejelasan adalah pesan yang hendak disampaikan itu jelas dan sederhana.
v     Konsistensi adalah maksud dan tujuan citra yang hendak dikembangkan.
v     Kreativitas adalah cara – cara yang kita kembangkan untuk menjalin hubungan dengan media, penyusunan pesan, kegiatan yang dijalankan dalam program tersebut dan seterusnya.v

Pengantar Jurnalistik

A. Latar Belakang
Telah diajarkan dalam mata kuliah Pengantar Jurnalistik bahwa ada setidaknya empat jenis pers utama, yaitu pers otoriter, pers liberal, pers komunis, dan pers tanggung jawab sosial. Keempat macam pers ini mempunyai tujuan dan unsur- unsur tersendiri; oleh karena itu, cukup simpel menganalisis jenis pers apa saja yang digunakan dalam suatu wilayah atau negara tertentu.
Secara historis, pers Indonesia (dan sebelumnya Hindia Belanda) tidak diberi kebebasan untuk melaporkan hal yang bertentangan dengan tujuan pemerintah. Sejak lahir pers Nusantara pada tengah abad kesembilan belas sampai dengan runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 pers Indonesia dikendalikan dengan ketat. Akibatnya, sampai dengan tahun 1998 sistem pers Indonesia adalah pers otoriter.
Namun, sistem pers Indonesia kini beda dari yang sebelumnya. Dalam beberapa bidang memang terbiasa mengikuti pernyataan pemerintah, tetapi dalam bidang lain pers sungguh-sungguh bertentangan keras dengan agenda pemerintah. Akibatnya, kadang tidak diketahui kini pers Indonesia adalah pers semacam apa.
B. Tujuan dan Metode Analisis
Analisis dimaksudkan untuk mengetahui dan menjelaskan apa jenis pers Indonesia pada zaman pasca-Soeharto ini. Jenis pers Indonesia ini akan dimasuk ke salah satu dari empat macam pers yang diajari di kelas.
Untuk mencapai tujuan itu, masalah akan dipecahkan dengan analisis gaya dan inti dari dua artikel dan satu opini dari harianKom pas dan perbandingan dengan ciri-ciri empat macam teori pers.
C. Sistematika Penyajian
Makalah ini dibagi menjadi empat bab dan sepuluh subbab. Bab satu adalah bab pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini dibagai menjadi tiga subbab dan menjelaskan latar belakang masalah, tujuan dan metode analisis, dan sistem penyajian.
Bab dua terdiri dari empat subbab. Bab ini berfungsi sebagai informasi latar belakang yang menjelaskan apa itu keempat teori pers. Terdapat dalam bab ini adalah penjelasan pers otoriter, pers liberal, pers komunis, dan pers tanggung jawab sosial.
Bab tiga adalah analisis jenis pers Indonesia; ini dibagi dalam tiga subbab yang terfokus pada satu aspek artikel per subbab. Dalam bab ini akan dipecahkan apakah macam pers Indonesia menurut teori yang dipelajari dalam kelas. Analisis ini dilakukan dengan cara memperbanding beberapa aspek artikel dari harian Kompas dengan unsur-unsur setiap macam pers yang dipelajari.
Bab empat adalah penutup. Penutup ini merupakan kesimpulan dan saran dari makalah ini.
BAB II: PENGERTIAN DASAR TEORI PERS
a) Sistem Pers Otoriter
Teori pers otoriter menyatakan bahwa pers berada untuk menyampaikan segala tujuan pemerintah kepada rakyat. Pers ini lahir di Eropa pada abad kelima belas ketika pemerintah-pemerintah Eropa masih menggunakan sistem politis
absolute monarchy. Macam pers ini berkembang pada abad keenam belas tetapi saat kini jarang ditemui kecuali dalam diktatorial non-komunis (Rahmanto, 2009).
Oleh karena pers otoriter berada karena diizinkan pemerintah setiap penerbit pers diawasi dengan ketat dan tidak boleh menghina pemerintah atau penguasa. Ini jelas kelihatan pada Orde Baru. Pada saat itu, berbagai media pers didiri oleh pemerintah, di antara lain RRI, TVRI dan Suara Karya. Untuk terus-menerus menerbit setiap pers perlu Surat Izin Cetak, Surat Izin Usaha Penerbitan Pers dan sebagainya (Rahmanto, 2009).
b) Sistem Pers Liberal
Pers liberal lahir pada abad ketujuh belas dan berkembang dalam abad-abad berikutnya. Pertama-tama muncul karena perubahan budaya di negara-negara Barat yang disebabkan revolusi industrial; pada saat itu manusia diakui sebagai makluk rasional yang dapat membedakan kebenaran dan kesalahan. Akibatnya, pers dibebaskan untuk menuliskan apa saja (Rahmanto, 2009).
Fungsi pers liberal tidaklah terbatas pada mengungkapkan fakta, tetapi juga untuk memberi hiburan. Ada pula fungsi untuk bertentangan dengan pemerintah dan monolopinya dalam komunikasi. Oleh karena fungsi-fungsi itu, pers liberal sering ucapkan rahasia pemerintah sebagai akibat dari investigative reporting dan protes keras ketika ada undang-undang yang membatasi kebebasan pers (Rahmanto, 2009).
c) Sistem Pers Komunis
Pers komunis lahir agak mirip pers otoriter, tetapi lebih terkendali oleh pemerintah. Lahir di Uni Soviet pada awal abad kedua puluh dengan runtuhnya keczaran Rusia, pers komunis berdasarkan teori-teori Karl Marx tentang sosialisme. Kini pers komunis dipegang (dengan beberapa modifikasi) dalam negara-negara komunis, di antara lain Republik Rakyat Cina, Vietnam, Korea Utara, dan Kuba (Rahmanto, 2009).
Dalam pers komunis, pers dianggap sebagai alat propaganda partai (penguasa) dan digunakan sebisa-bisanya untuk memperlancar proyek-proyek partai. Oleh karena dimaksud sebagai alat propaganda, pers komunis sangat terbatas dalam apa yang bisa dilaporkan. Semua macam pers milik negara dan disensor oleh negara. Sama sekali tidak boleh ada kritik terhadap partai ataupula tujuannya (Rahmanto, 2009).
d) Sistem Pers Tanggung Jawab Sosial
Sistem pers tanggung jawab sosial muncul sebagai perkembangan dari pers liberal pada abad kedua puluh karena pers liberal dianggap terlalu menipu masyarakat. Dalam sistem pers ini, pers berdiri terpisah dari pemerintah, tetapi wajib mengendalikan diri sesuai dengan kode etik pers. Dalam kata lain, dalam sistem pers ucapkan rahasia pemerintah sebagai akibat dari investigative reporting dan protes keras ketika ada undang-undang yang membatasi kebebasan pers itu, pers tanggung jawab sosial dianggap bertanggung atas informasi yang disampaikannya. Untuk menghindari ketidakjelasan danbias, pers harus bersifat objektif dalam pelaporan peristiwa. Pers juga harus bersifat non partisan dan tidak memihak-pihak dalam isu-isu sosial ataupun pilihan umum (Rahmanto, 2009).
BAB III: ANALISIS JENIS PERS INDONESIA
a) Gaya Bahasa Artikel
Gaya bahasa ketiga artikel / opini yang dianalisis cukup standar. Jarang digunakan kata-kata yang melebih-lebih atau membesar-besar topik. Kata-kata inflammatory atau sensasionalis yang sering dijumpai dalam pers liberal dan tabloid tidak ada di kedua artikel.
Tingkat bahasa cukup sederhana dan dapat dimengerti oleh sebagian besar pembaca. Tatkala ada kata atau istilah yang agak spesialis, misalnya kata “hasiab” dalam artikel “Muhammadiyah Hari Minggu,” (selanjutnya disebut MHM) pasti diartikan. Walaupun ini tidak menandai satu macam pers tertentu, ini memperluas pengertian pembaca yang mungkin dari latar belakang berbeda.
Dalam kedua artikel digunakan kata-kata yang denotasinya netral, sesuai dengan pers otoriter, pers komunis dan pers tanggung jawab sosial. Misalnya, dalam artikel “ 130 Truk BBM Disiagakan ” (selanjutnya disebut 130 TBD) terdapatlah kalimat “ Sepeda motor terlihat mendominasi lalu lintas, terutama pada pagi hari ” yang bersifat cukup objektif. Bisa saja dalam pers liberal kalimat itu berbunyi “ Sepeda motor bergila-gilaan menutupi jalan dan menyebabkan macet ” yang konotaasinya lebih negatif.
Sedangkan, gaya bahasa dalam opini “Kebebasan Pers Terancam” (selanjutnya disebut KBT) bersifat menegaskan. Ada beberapa kalimat yang diulang- ulangi sebagai penegas intinya. Contohnya, frase-frase “nondemokratis,” “represif,” dan “antikebebasan pers” digunakan berkali-kali. Sifat pengulangan dan penegasan opini ini mengarah ke pers liberal karena bersifat inflammatory.
Macam pers Indonesia juga ditandai oleh pilihan judul dan by-line artikel. Konotasi bisa terbawa dari keterkaitan dua frase di atas artikel. Contohnya, dalam artikel MHM ada by-line “Pemerintah Belum Memutuskan Tanggal Idul Fitri.” Ketika hanya judul dan by-line artikel dibaca ada penangkapan bahwa pemerintah tidak efisien; kritik pemerintah ini sesuai dengan pers liberal atau pers tanggung jawab sosial.
b) Topik Artikel
Topik artikel (apa yang dibahas dalam artikel) dapat menandai orientasi pers oleh karena pelesapan adalah cara objektif menyampaikan pikiran. Dalam kata lain, dengan melesap informasi yang tidak sesuai dengan sudut pandang seorang wartawan dapatlah wartawan itu mengubah pikiran masyarakat tanpa mengubah objektivitas artikelnya.
Dalam kedua artikel yang dianalisis, topik artikel adalah sesuatu yang sangat berguna bagi sebagian besar masyarakat. Dalam artikel 130 TBD, masyarakat diberi tahu bahwa telah disediakan bensin ekstra untuk pompa-pompa di Sumatera; dengan pengetahuan itu masyarakat tidak perlu buru-buru isi bensin dan menyebabkan macet. Dalam artikel MHM, masyarakat diberi tahu bahwa Muhammadiyah telah menetapkan hari Idul Fitri pada hari Minggu; untuk kaum Islam, pengetahuan awal hari raya ini dapat bantu mereka siapkan diri untuk Lebaran dengan cara menentukan batas belanjaan. Ini termasuk pers tanggung jawab sosial.
Sedangkan, dalam opini KPT topik adalah reaksi terhadap undang-undang baru yang menentukan hukum berat untuk pelanggaran rahasia negara. Topik ini bertentangan dengan posisi pemerintah dan karena itu membuktikan bahwa pers tidak dipeliharakan seratus persen oleh pemerintah; dalam kata lain, pers Indonesia bukanlah pers otoriter atau komunis.
c) Sudut Pandang Artikel
Sudut pandang (point of view) ditandai oleh beberapa bagian artikel, di antara lain diksi, pilihan informasi, pelesapan informasi, kelengkapan artikel, dan juga dengan tempat letaknya artikel dalam koran. Misalnya, artikel-artikel yang dianggap penting oleh pers diletakkan di halaman-halaman depan dengan artikel yang besar. Sedangkan, artikel yang dianggap tidak penting diletakkan di belakang.
Dalam artikel 130 TBD, sudut pandang cukup objektif. Contohnya, pada akhir artikel diberi pernyataan oleh wakil pemerintah bahwa takkan ada hambatan yang berarti dalam perjalanan. Pernyataan ini diseimbangi dengan informasi bahwa jumlah pemudik bermotor meningkat dan mulai dominasi jalan pada pagi hari. Oleh karena ada keseimbangan informasi itu, pembaca tidak dipersuasi setuju dengan laporan oleh karena pelesapan informasi.
Dalam artikel MHM, sudut pandang anti-pemerintah secara tidak langsung. Di antara lain, ketika judul dibaca bersama by-line ada pesan ketidakefisienan pemerintah. Apalagi, walaupun pemerintah diberi lebih banyak kutipan dan fokus dalam artikel ada pula pernyataan yang terdengar agak menghina. Misalnya, permohonan pemerintah agar masyarakat sabar menunggu keputusan dikatakan dua kali dalam artikel. Kritik pemerintah ini sesuai dengan pers liberal atau tanggung jawab sosial.
Sudut pandang yang paling jelas terletak pada opini KPT, yaitu posisi anti- pemerintah. Keputusan pemerintah untuk undang-undang baru dikritik secara mendalam dalam opini yang penuh emosi. Namun, pembaca tidak diberi kutipan langsung dari undang-undang tersebut atau lihat semua ayat dan pasal dalam konteks ataupun komentar dari ahli. Akibatnya, terjadi pelesapan informasi yang cukup besar dalam opini ini yang mewarnai penangkapan masyarakat. Ini mencerminkan sistem pers liberal.
BAB V: PENUTUP
Dari informasi di atas dapat dimengerti bahwa pers Indonesia pada saat ini pasti bukan pers otoriter ataupun pers komunis. Pers Indonesia pada saat ini lebih mengarah ke pers tanggung jawab sosial, yang menjaga sikap dan nama baik dengan kebenaran dan objektivitas dalam artikel.
Namun, ada pula beberapa aspek pers liberal yang masih terasa dalam pers Indonesia pada saat ini. Opini seperti KPT reaksionis dan terbawa emosi, bukan logika. Dalam opini-opini ada kebiasaan menyampaikan gagasan tanpa memeriksanya dengan ahli dalam bidang itu; dalam kasus KPT, ahli hukum.
Oleh karena itu, pers Indonesia moderne tidak dapat disebut seratus persen pers tanggung jawab sosial. Namun, bisa dikatakan bahwa pers Indonesia pada saat ini bersifat tanggung jawab sosial dalam artikel tetapi liberal dalam opini.
Agar bisa lebih dipercaya rakyat sebaiknya pers Indonesia ingat pada kedudukannya sebagai pelapor peristiwa penting yang berguna untuk rakyat. Apabila ada sesuatu yang sangat memarahkan, sebaiknya opini tentang itu mengkritik dengan bukti tambahan dari ahli atau kutipan dari buku
DAFTAR PUSTAKA
Batubara, Leo. 2009. “Kebebasan Pers Terancam.”Kom pas. 14 September.
Rahmanto, Drs. B. 2009. “Empat Macam Teori Pers.”Pelajar an.
Staff Kompas. 2009. “130 Truk BBM Disiagakan.”Kom pas. 14 September.
Staff Kompas. 2009. “Muhammadiyah Hari Minggu.”Kom pas. 14 September
A. Latar Belakang
Telah diajarkan dalam mata kuliah Pengantar Jurnalistik bahwa ada setidaknya empat jenis pers utama, yaitu pers otoriter, pers liberal, pers komunis, dan pers tanggung jawab sosial. Keempat macam pers ini mempunyai tujuan dan unsur- unsur tersendiri; oleh karena itu, cukup simpel menganalisis jenis pers apa saja yang digunakan dalam suatu wilayah atau negara tertentu.
Secara historis, pers Indonesia (dan sebelumnya Hindia Belanda) tidak diberi kebebasan untuk melaporkan hal yang bertentangan dengan tujuan pemerintah. Sejak lahir pers Nusantara pada tengah abad kesembilan belas sampai dengan runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 pers Indonesia dikendalikan dengan ketat. Akibatnya, sampai dengan tahun 1998 sistem pers Indonesia adalah pers otoriter.
Namun, sistem pers Indonesia kini beda dari yang sebelumnya. Dalam beberapa bidang memang terbiasa mengikuti pernyataan pemerintah, tetapi dalam bidang lain pers sungguh-sungguh bertentangan keras dengan agenda pemerintah. Akibatnya, kadang tidak diketahui kini pers Indonesia adalah pers semacam apa.
B. Tujuan dan Metode Analisis
Analisis dimaksudkan untuk mengetahui dan menjelaskan apa jenis pers Indonesia pada zaman pasca-Soeharto ini. Jenis pers Indonesia ini akan dimasuk ke salah satu dari empat macam pers yang diajari di kelas.
Untuk mencapai tujuan itu, masalah akan dipecahkan dengan analisis gaya dan inti dari dua artikel dan satu opini dari harianKom pas dan perbandingan dengan ciri-ciri empat macam teori pers.
C. Sistematika Penyajian
Makalah ini dibagi menjadi empat bab dan sepuluh subbab. Bab satu adalah bab pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini dibagai menjadi tiga subbab dan menjelaskan latar belakang masalah, tujuan dan metode analisis, dan sistem penyajian.
Bab dua terdiri dari empat subbab. Bab ini berfungsi sebagai informasi latar belakang yang menjelaskan apa itu keempat teori pers. Terdapat dalam bab ini adalah penjelasan pers otoriter, pers liberal, pers komunis, dan pers tanggung jawab sosial.
Bab tiga adalah analisis jenis pers Indonesia; ini dibagi dalam tiga subbab yang terfokus pada satu aspek artikel per subbab. Dalam bab ini akan dipecahkan apakah macam pers Indonesia menurut teori yang dipelajari dalam kelas. Analisis ini dilakukan dengan cara memperbanding beberapa aspek artikel dari harian Kompas dengan unsur-unsur setiap macam pers yang dipelajari.
Bab empat adalah penutup. Penutup ini merupakan kesimpulan dan saran dari makalah ini.
BAB II: PENGERTIAN DASAR TEORI PERS
a) Sistem Pers Otoriter
Teori pers otoriter menyatakan bahwa pers berada untuk menyampaikan segala tujuan pemerintah kepada rakyat. Pers ini lahir di Eropa pada abad kelima belas ketika pemerintah-pemerintah Eropa masih menggunakan sistem politis
absolute monarchy. Macam pers ini berkembang pada abad keenam belas tetapi saat kini jarang ditemui kecuali dalam diktatorial non-komunis (Rahmanto, 2009).
Oleh karena pers otoriter berada karena diizinkan pemerintah setiap penerbit pers diawasi dengan ketat dan tidak boleh menghina pemerintah atau penguasa. Ini jelas kelihatan pada Orde Baru. Pada saat itu, berbagai media pers didiri oleh pemerintah, di antara lain RRI, TVRI dan Suara Karya. Untuk terus-menerus menerbit setiap pers perlu Surat Izin Cetak, Surat Izin Usaha Penerbitan Pers dan sebagainya (Rahmanto, 2009).
b) Sistem Pers Liberal
Pers liberal lahir pada abad ketujuh belas dan berkembang dalam abad-abad berikutnya. Pertama-tama muncul karena perubahan budaya di negara-negara Barat yang disebabkan revolusi industrial; pada saat itu manusia diakui sebagai makluk rasional yang dapat membedakan kebenaran dan kesalahan. Akibatnya, pers dibebaskan untuk menuliskan apa saja (Rahmanto, 2009).
Fungsi pers liberal tidaklah terbatas pada mengungkapkan fakta, tetapi juga untuk memberi hiburan. Ada pula fungsi untuk bertentangan dengan pemerintah dan monolopinya dalam komunikasi. Oleh karena fungsi-fungsi itu, pers liberal sering ucapkan rahasia pemerintah sebagai akibat dari investigative reporting dan protes keras ketika ada undang-undang yang membatasi kebebasan pers (Rahmanto, 2009).
c) Sistem Pers Komunis
Pers komunis lahir agak mirip pers otoriter, tetapi lebih terkendali oleh pemerintah. Lahir di Uni Soviet pada awal abad kedua puluh dengan runtuhnya keczaran Rusia, pers komunis berdasarkan teori-teori Karl Marx tentang sosialisme. Kini pers komunis dipegang (dengan beberapa modifikasi) dalam negara-negara komunis, di antara lain Republik Rakyat Cina, Vietnam, Korea Utara, dan Kuba (Rahmanto, 2009).
Dalam pers komunis, pers dianggap sebagai alat propaganda partai (penguasa) dan digunakan sebisa-bisanya untuk memperlancar proyek-proyek partai. Oleh karena dimaksud sebagai alat propaganda, pers komunis sangat terbatas dalam apa yang bisa dilaporkan. Semua macam pers milik negara dan disensor oleh negara. Sama sekali tidak boleh ada kritik terhadap partai ataupula tujuannya (Rahmanto, 2009).
d) Sistem Pers Tanggung Jawab Sosial
Sistem pers tanggung jawab sosial muncul sebagai perkembangan dari pers liberal pada abad kedua puluh karena pers liberal dianggap terlalu menipu masyarakat. Dalam sistem pers ini, pers berdiri terpisah dari pemerintah, tetapi wajib mengendalikan diri sesuai dengan kode etik pers. Dalam kata lain, dalam sistem pers ucapkan rahasia pemerintah sebagai akibat dari investigative reporting dan protes keras ketika ada undang-undang yang membatasi kebebasan pers itu, pers tanggung jawab sosial dianggap bertanggung atas informasi yang disampaikannya. Untuk menghindari ketidakjelasan danbias, pers harus bersifat objektif dalam pelaporan peristiwa. Pers juga harus bersifat non partisan dan tidak memihak-pihak dalam isu-isu sosial ataupun pilihan umum (Rahmanto, 2009).
BAB III: ANALISIS JENIS PERS INDONESIA
a) Gaya Bahasa Artikel
Gaya bahasa ketiga artikel / opini yang dianalisis cukup standar. Jarang digunakan kata-kata yang melebih-lebih atau membesar-besar topik. Kata-kata inflammatory atau sensasionalis yang sering dijumpai dalam pers liberal dan tabloid tidak ada di kedua artikel.
Tingkat bahasa cukup sederhana dan dapat dimengerti oleh sebagian besar pembaca. Tatkala ada kata atau istilah yang agak spesialis, misalnya kata “hasiab” dalam artikel “Muhammadiyah Hari Minggu,” (selanjutnya disebut MHM) pasti diartikan. Walaupun ini tidak menandai satu macam pers tertentu, ini memperluas pengertian pembaca yang mungkin dari latar belakang berbeda.
Dalam kedua artikel digunakan kata-kata yang denotasinya netral, sesuai dengan pers otoriter, pers komunis dan pers tanggung jawab sosial. Misalnya, dalam artikel “ 130 Truk BBM Disiagakan ” (selanjutnya disebut 130 TBD) terdapatlah kalimat “ Sepeda motor terlihat mendominasi lalu lintas, terutama pada pagi hari ” yang bersifat cukup objektif. Bisa saja dalam pers liberal kalimat itu berbunyi “ Sepeda motor bergila-gilaan menutupi jalan dan menyebabkan macet ” yang konotaasinya lebih negatif.
Sedangkan, gaya bahasa dalam opini “Kebebasan Pers Terancam” (selanjutnya disebut KBT) bersifat menegaskan. Ada beberapa kalimat yang diulang- ulangi sebagai penegas intinya. Contohnya, frase-frase “nondemokratis,” “represif,” dan “antikebebasan pers” digunakan berkali-kali. Sifat pengulangan dan penegasan opini ini mengarah ke pers liberal karena bersifat inflammatory.
Macam pers Indonesia juga ditandai oleh pilihan judul dan by-line artikel. Konotasi bisa terbawa dari keterkaitan dua frase di atas artikel. Contohnya, dalam artikel MHM ada by-line “Pemerintah Belum Memutuskan Tanggal Idul Fitri.” Ketika hanya judul dan by-line artikel dibaca ada penangkapan bahwa pemerintah tidak efisien; kritik pemerintah ini sesuai dengan pers liberal atau pers tanggung jawab sosial.
b) Topik Artikel
Topik artikel (apa yang dibahas dalam artikel) dapat menandai orientasi pers oleh karena pelesapan adalah cara objektif menyampaikan pikiran. Dalam kata lain, dengan melesap informasi yang tidak sesuai dengan sudut pandang seorang wartawan dapatlah wartawan itu mengubah pikiran masyarakat tanpa mengubah objektivitas artikelnya.
Dalam kedua artikel yang dianalisis, topik artikel adalah sesuatu yang sangat berguna bagi sebagian besar masyarakat. Dalam artikel 130 TBD, masyarakat diberi tahu bahwa telah disediakan bensin ekstra untuk pompa-pompa di Sumatera; dengan pengetahuan itu masyarakat tidak perlu buru-buru isi bensin dan menyebabkan macet. Dalam artikel MHM, masyarakat diberi tahu bahwa Muhammadiyah telah menetapkan hari Idul Fitri pada hari Minggu; untuk kaum Islam, pengetahuan awal hari raya ini dapat bantu mereka siapkan diri untuk Lebaran dengan cara menentukan batas belanjaan. Ini termasuk pers tanggung jawab sosial.
Sedangkan, dalam opini KPT topik adalah reaksi terhadap undang-undang baru yang menentukan hukum berat untuk pelanggaran rahasia negara. Topik ini bertentangan dengan posisi pemerintah dan karena itu membuktikan bahwa pers tidak dipeliharakan seratus persen oleh pemerintah; dalam kata lain, pers Indonesia bukanlah pers otoriter atau komunis.
c) Sudut Pandang Artikel
Sudut pandang (point of view) ditandai oleh beberapa bagian artikel, di antara lain diksi, pilihan informasi, pelesapan informasi, kelengkapan artikel, dan juga dengan tempat letaknya artikel dalam koran. Misalnya, artikel-artikel yang dianggap penting oleh pers diletakkan di halaman-halaman depan dengan artikel yang besar. Sedangkan, artikel yang dianggap tidak penting diletakkan di belakang.
Dalam artikel 130 TBD, sudut pandang cukup objektif. Contohnya, pada akhir artikel diberi pernyataan oleh wakil pemerintah bahwa takkan ada hambatan yang berarti dalam perjalanan. Pernyataan ini diseimbangi dengan informasi bahwa jumlah pemudik bermotor meningkat dan mulai dominasi jalan pada pagi hari. Oleh karena ada keseimbangan informasi itu, pembaca tidak dipersuasi setuju dengan laporan oleh karena pelesapan informasi.
Dalam artikel MHM, sudut pandang anti-pemerintah secara tidak langsung. Di antara lain, ketika judul dibaca bersama by-line ada pesan ketidakefisienan pemerintah. Apalagi, walaupun pemerintah diberi lebih banyak kutipan dan fokus dalam artikel ada pula pernyataan yang terdengar agak menghina. Misalnya, permohonan pemerintah agar masyarakat sabar menunggu keputusan dikatakan dua kali dalam artikel. Kritik pemerintah ini sesuai dengan pers liberal atau tanggung jawab sosial.
Sudut pandang yang paling jelas terletak pada opini KPT, yaitu posisi anti- pemerintah. Keputusan pemerintah untuk undang-undang baru dikritik secara mendalam dalam opini yang penuh emosi. Namun, pembaca tidak diberi kutipan langsung dari undang-undang tersebut atau lihat semua ayat dan pasal dalam konteks ataupun komentar dari ahli. Akibatnya, terjadi pelesapan informasi yang cukup besar dalam opini ini yang mewarnai penangkapan masyarakat. Ini mencerminkan sistem pers liberal.
BAB V: PENUTUP
Dari informasi di atas dapat dimengerti bahwa pers Indonesia pada saat ini pasti bukan pers otoriter ataupun pers komunis. Pers Indonesia pada saat ini lebih mengarah ke pers tanggung jawab sosial, yang menjaga sikap dan nama baik dengan kebenaran dan objektivitas dalam artikel.
Namun, ada pula beberapa aspek pers liberal yang masih terasa dalam pers Indonesia pada saat ini. Opini seperti KPT reaksionis dan terbawa emosi, bukan logika. Dalam opini-opini ada kebiasaan menyampaikan gagasan tanpa memeriksanya dengan ahli dalam bidang itu; dalam kasus KPT, ahli hukum.
Oleh karena itu, pers Indonesia moderne tidak dapat disebut seratus persen pers tanggung jawab sosial. Namun, bisa dikatakan bahwa pers Indonesia pada saat ini bersifat tanggung jawab sosial dalam artikel tetapi liberal dalam opini.
Agar bisa lebih dipercaya rakyat sebaiknya pers Indonesia ingat pada kedudukannya sebagai pelapor peristiwa penting yang berguna untuk rakyat. Apabila ada sesuatu yang sangat memarahkan, sebaiknya opini tentang itu mengkritik dengan bukti tambahan dari ahli atau kutipan dari buku
DAFTAR PUSTAKA
Batubara, Leo. 2009. “Kebebasan Pers Terancam.”Kom pas. 14 September.
Rahmanto, Drs. B. 2009. “Empat Macam Teori Pers.”Pelajar an.
Staff Kompas. 2009. “130 Truk BBM Disiagakan.”Kom pas. 14 September.
Staff Kompas. 2009. “Muhammadiyah Hari Minggu.”Kom pas. 14 September